Matahari mulai condong ke barat, namun suasana di area SMAN 1 Loceret (Smasal) justru semakin hidup. Di salah satu sudut ruangan, terlihat deretan siswa dengan peluh yang bercucuran, namun tetap fokus mengikuti ketukan musik. Mereka adalah anggota ekstrakurikuler tari Smasal yang tengah mempersiapkan diri untuk memikat panggung berikutnya.

Ekskul tari di Smasal bukan sekadar kegiatan tambahan setelah jam pelajaran usai. Bagi siswa-siswi di sini, tari adalah identitas. Di tengah gempuran tren media sosial, siswa Smasal tetap konsisten mendalami tarian tradisional, khususnya tarian khas daerah Nganjuk dan Jawa Timur, serta memadukannya dengan unsur kreasi modern.

"Kami ingin membawa nama Smasal lebih dikenal, bukan hanya lewat prestasi akademik, tapi juga melalui kelestarian budaya. Nganjuk punya sejarah seni yang kuat, dan kami adalah penerusnya," ujar salah satu anggota senior ekskul tari.

Proses Latihan tari di Smasal dikenal cukup kompetitif dan disiplin. Untuk menghasilkan gerakan yang nyawiji dan selaras, para anggota harus berlatih berkali-kali guna menyempurnakan teknik dasar dan sinkronisasi. Hal ini bukan hanya soal estetika di panggung, melainkan juga melatih ketahanan mental serta kerjasama tim yang solid.

Ekskul tari yang ada di Smasal diberi nama Lentera Gita Wiragama. Salah satu ekstrakulikuler yang menjadi primadona ini dibimbing langsung oleh Miss Paolina, yang lebih dikenal dengan nama Miss Powpow. Beliau adalah representasi epic tentang seni.

Ibu kepala sekolah, Ibu Tutut Trijoto, meyakini bahwa pengembangan bakat di bidang seni tari mampu memberikan keseimbangan bagi kecerdasan emosional siswa. Melalui gerakan tangan yang gemulai dan hentakan kaki yang tegas, para penari Smasal sedang menuliskan sejarah mereka sendiri. Mereka adalah bukti nyata bahwa di tangan generasi muda, warisan luhur bangsa tidak akan hilang ditelan zaman.